BAHAYA! Banyak Duduk Sama Seperti Banyak Merokok

Duduk Adalah Gantinyo MerokokCahaya buatan bukan satu-satunya kerugian berada di dalam ruangan sepanjang hari; duduk berjam-jam tanpa henti, membungkuk di atas meja, juga menjadi ancaman kesehatan yang besar. Kurang lebih setahun terakhir, beberapa riset telah memberikan laporan yang mengerikan tentang betapa berbahayanya duduk bagi kesehatan kita. Rata-rata, kita duduk lebih dari 9 jam per hari dan tidur hanya 7 jam per hari. Bayangkan sejenak; itu artinya kita menghabiskan lebih dari dua pertiga waktu kita dengan berbaring atau duduk. Dan, tubuh kita tidak senang akan hal ini. Sesungguhnya, para dokter menganggap duduk lebih dari 9 jam sehari “mematikan”. Duduk berlebihan merusak tulang punggung dan postur kita, menyebabkan otot atrofi dan kendur, mengganggu konsentrasi, serta dapat memicu gangguan peredaran darah serius yang berpengaruh buruk pada kaki dan telapak kaki. Dan, bukan hanya duduk di meja yang buruk bagi kita; riset menunjukkan bahwa meringkuk di sofa serta menambahkan satu jam menonton TV per hari meningkatkan risiko kematian sebanyak 4%. Bayangkan akibat menonton film dua jam saja bagi Anda-jika Anda tidak bergerak untuk mengompensasi saat-saat tidak aktif ini.

Nilofer Merchant, seorang pemimpin visioner dan penemu, bahkan menyatakan bahwa duduk adalah "gantinya merokok” karena dua kali lebih mungkin menyebabkan kematian dibanding merokok. Mengetahui hal ini membuat saya ingin berhenti menulis, bangun dari tempat duduk, dan lari menyelamatkan diri! Untungnya, kita mulai menerima pesannya, sebagaimana dibuktikan oleh semakin banyaknya meja berdiri, dan sebagian pekerja-terutama penulis yang duduk sangat lama-bahkan memilih merogoh kocek untuk membeli meja treadmill. Ini adalah inovasi yang menggerakkan kita ke arah yang benar, tetapi masih melewatkan poin utamanya, yaitu kita perlu berdiri, meregangkan tubuh, benar-benar mengistirahatkan otak kita, serta membiarkan tungkai, otot, dan kelima indra kita mengambil alih sejenak-dan ini paling baik dilakukan di luar ruangan.

Merchant mengatasi masalah ini dengan beralih dari rapat duduk ke rapat berjalan, yang bukan sekadar jalan-jalan keliling kantor; tidak, ia mengajak koleganya gerak jalan, yang
lumayan melelahkan, di luar ruangan. Ia menghitung bahwa ia harus berjalan 30 hingga 50 km per minggu dengan rata-rata empat rapat berjalan. la mendapati bahwa berjalan bersama kolega (alih-alih duduk bertatap muka di meja) menjadikan ia pendengar yang lebih baik dan pencari solusi yang lebih kreatif. Ditambah lagi, sebagai orang yang tidak pernah suka berolahraga karena itu menjauhkannya dari berbagai aktivitas-termasuk kerja-yang dianggapnya lebih penting, ia merasa tidak mengorbankan yang satu untuk yang lain. Ia berkata bahwa, setiap kali ia dan koleganya selesai rapat seperti ini, mereka selalu merasa senang. Dan, itu bukan kata yang biasa digunakan untuk menggambarkan rapat perusahaan. jika tidak bisa mengupayakan gerak jalan yang sesungguhnya atau waktu yang cukup lama di luar kantor pada hari kerja, Anda masih bisa berdiri dan bergerak-setidaknya satu jam sekali, meskipun hanya berdiri dan meregangkan tubuh. Saya menyarankan klien saya melakukan peregangan yoga sederhana. Beth, seorang desainer yang saya bantu, bahkan melakukan satu set gerakan vinyasa yang sudah dimodifikasi, setiap hari tanpa kecuali, tiga atau empat jam pada hari kerja; ia bersumpah itu membuatnya tetap waras dan tenang, meskipun deadline di depan mata.

jika bisa, cobalah beberapa gerakan hip opener sederhana, beberapa push-up, atau jumping jack untuk meningkatkan denyut jantung dan melancarkan peredaran darah. Bahkan, sekadar berdiri dan berjalan-jalan keliling kantor selama lima menit setiap jam membantu bahaya yang disebabkan oleh duduk dalam waktu lama. Ditambah lagi, jalan-jalan akan menjernihkan pikiran Anda, membuat Anda lebih fokus dan produktif. Jika Anda bekerja di kantor dengan tata lantai terbuka, lakukan peregangan ringan di kamar mandi. Anda tidak salah dengar: lakukan "aerobik kamar mandi”-press plank di bibir wastafel, semenit wall sit, atau beberapa deep squat yang juga memberikan manfaat ekstra dalam menguatkan otot dasar pinggul dan membantu mengatasi inkontinensia urin. ini mungkin terdengar konyol, tetapi lonjakan kecil aktivitas otot inti membuat darah mengalir dan metabolisme bekerja.

Kisah Keren
Saya memiliki klien baru bernama Karen yang sedang berjuang mencari cara untuk makan dengan baik tanpa mengandalkan minuman kocok diet dalam kemasan untuk menjembatani hubungannya dengan makanan. Salah satu perubahan pertama yang saya minta darinya adalah memastikan ia mengambil istirahat minimal 30 menit untuk makan siang setiap hari. Ia memiliki pekerjaan yang sangat menyita pikiran sebagai account manager, yang diperparah dengan atasan galak yang ingin karyawannya tetap di tempat-bahkan saat makan siang.
Oleh karena itu, Karen jadi terbiasa hanya menenggak minuman kocok yang ia bawa dalam tasnya. (Kantornya tidak punya dapur atau ruang istirahat, yang sepertinya sangat tidak manusiawi bagi saya.) Ia bekerja sambil “makan siang" dan tidak berhenti sampai pukul 7.30 malam setiap hari.

Belum lama ini kami duduk bersama dan ia berkata bahwa atasannya akan pergi selama satu minggu, dan saya bilang ini kesempatan bagus untuk mengubah kebiasaan dan rneninggalkan meja saat makan siang. jawaban saya sepertinya membuat Karen kecewa. Ia tidak ingin saya memberi tahu bahwa yang dibutuhkannya adalah berdiri dan pergi berjemur d1 luar beberapa menit. Ia ingin saya memberi tahu apa yang harus ia makan sebagai ganti minuman kocok diet. Namun, saya tidak mau memberi ia menu atau rekomendasi makanan spesxfik. Alih-alih, saya tetap fokus pada hal yang saya tahu paling ia butuhkan, yaitu menghentikan kebiasaan buruk bekerja sambil makan siang.

Kami menemui jalan buntu dan menghabiskan satu jam dalam negosiasi alot karena Karen bersikeras ia hanya bisa beristirahat makan siang dengan meninggalkan meja dua kali saja-tidak lebih. Saat saya mendesak lebih jauh, dan mengingatkannya bahwa atasannya tidak akan ada di tempat untuk mengawasi, ia menjadi sedikit emosional. Sepertinya tidak ada yang pernah memberi tahu Karen-khususnya di kantornya yang sangat kaku-bahwa ia berhak atas waktu istirahat, barang setengah jam saja, yang sesungguhnya hanya separuh dari waktu istirahat makan siang yang masuk akal.

Dengan lembut, saya terus menjelaskan kepadanya bahwa dengan meninggalkan meja dan makan di luar atau di lobi gedung (yang memiliki tempat duduk nyaman dan jendela besar), ia akan dapat mengubah hubungannya dengan makanan secara signifikan. Saya ingin ia merasakan makan tanpa membungkuk di depan layar komputer; tanpa tangannya lebih sibuk dengan papan ketik daripada makanan. Saya ingin ia mendapatkan istirahat pikiran dari pekerjaannya, sebagaimana saya ingin ia mendapatkan istirahat tubuh dari tempat kerjanya. Saya harus berkata berulang kali untuk membuat Karen mulai paham bahwa saya meminta ia mengambil sikap demi merawat diriny sendiri, yang tidak hanya akan mengubah hubungannya dengan makanan, tetapi juga hubungannya dengan banyak hal lain. Saya ingin ia mengerti bahwa hubungannya dengan makanan tidak akan berubah, apa pun yang ia makan--jika ia terus makan dengan cara yang sama.

Bahkan, setelah satu jam mendiskusikan ini, ia masih belum sepenuhnya memahami perkataan saya. Namun, saya tahu sesuatu sudah berubah dalam dirinya karena ia lebih bisa menerima dan terbuka. Saat kami berdiri untuk pergi, Karen bertanya apakah ia boleh memeluk saya sebelum kami berpisah. Tentu saja! Saya memeluknya dengan hangat dan berbisik di telinganya, “Aku percaya kepadamu. Kau bisa melakukannya.” Dan, saya benar-benar berharap begitu, karena meninggalkan meja, bagi Karen, adalah lompatan besar untuk merawat serta mencintai dirinya sendiri. Inilah arah yang harus ia tempuh, untuk mengubah hubungannya dengan makanan, dan mulai mengenali apa yang sesungguhnya didambakan jiwanya.
Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.