Kenapa Saya Tidak Berolahraga?

Saya benci kata "olahraga”. Itu mengingatkan saya pada kelas olahraga di SMP, salah satu pengalaman hidup yang paling membuat saya trauma. Maksud saya, siapa yang mau dipaksa memanjat tali di depan banyak anak laki-laki sambil memakai penyangga punggung yang menonjol di sana-sini? Pengalaman itu meninggalkan luka permanen pada jiwa saya.

Olahraga membuat saya membayangkan pekerjaan. Dan, saat bergerak, saya tidak ingin bekerja; saya ingin bermain. Ini mungkin seperti pilih-pilih kosakata, tetapi dengarkan dulu:
saya benar-benar suka bergerak, sungguh! Saya hanya tidak senang jika menggerakkan tubuh dikemas sebagai semacam pil pahit, sebagaimana olahraga sering dikemas.

Saya tahu, saya bukan satu-satunya orang yang membayar keanggotaan gym yang mahal hanya untuk menginjakkan kaki di gym itu lebih jarang ketimbang berkunjung ke dokter gigi. Saya tidak tahu apakah ini faktor intimidasi [poster model kurus superbugar setinggi dua lantai yang membungkus bangunan itu sama sekali tidak membantu) atau aura pantang mundur yang dipancarkan puluhan jiwa serius tanpa suara yang sibuk mengayuh, menekan, dan meremas jantung mereka; tetapi apa pun itu, pergi ke gym terasa menakutkan dan sama sekali tidak menarik. Jadi, saya membebaskan diri dari kesulitan (bersama kartu kredit saya) dengan membatalkan keanggotaan saya.

Jangan salah. Saya bukannya tidak suka berada di sekitar orang-orang yang berkeringat: saya menyukai getaran kolektif dahsyat yang bisa Anda peroleh dari kelas yoga yang menguras keringat atau, lebih baik lagi, gejolak adrenalin dari kelas dansa bebas. Namun, aktivitas semacam itu bukan olahraga bagi saya, melainkan permainan. Dan, bermain adalah sesuatu yang saya perturutkan sesering mungkin.

Ingatkah Anda bagaimana rasanya dibiarkan bebas dan bermain semasa kecil? Apalagi kalau tempatnya jauh dari orangtua, di mana Anda mendorong batas-batas dunia yang sudah Anda kenal, mencoba berbagai hal yang berisiko, menegangkan, dan membangun percaya diri. Nah, saya ingat sekali.
Saya ingat dulu di Oregon menghabiskan hari-hari musim
panas yang panjang di atas sepeda keren saya, sepeda dengan sadel pisang motif bunga-bunga. 

Saya akan melesat di atas sepeda itu, pita stang melambai-lambai, rambut kusut, kaki mengayuh, menerobos pepohonan, dan membuka jalan setapak baru dengan teman-teman. Kami liar dan bebas. Kami hanya akan pulang saat lapar dan sudah terlalu gelap untuk melihat tanah. jika tidak di hutan, kami bersepeda ke danau, dengan baju renang dirangkap baju biasa, handuk terselempang di pundak, dan sandal di kaki. Kami tidak memakai helm dan tidak ada tiket masuk, jadi kami hanya butuh dua keping 25 sen untuk satu hari-sekeping untuk sekantung popcorn dan Coke, sekeping lagi untuk satu jam Ping-Pong atau shuffleboard. 

Kami akan berenang sepanjang hari, berusaha keras melatih keterampilan yang dibutuhkan untuk lulus ke kolam yang lebih besar, yang memiliki papan lompat tinggi. Ini kolam tempat semua anak remaja berkumpul, tetapi kami tak peduli; kami hanya ingin melihat siapa yang bisa membuat percikan terbesar atau menyeberangi kolam paling cepat. Kami sama sekali tak peduli dengan penampilan kami dalam pakaian renang. Kami semua menjadi kuat, cokelat, dan percaya diri. Pada hari-hari panjang penuh kebebasan itulah saya belajar begitu banyak hal, seperti ketahanan, kepercayaan, arti kegagalan, imbalan kegigihan, dan banyak lagi. Dengan menjadi anak liar saya tahu siapa saya dan potensi yang saya miliki.

Sungguh saya ingin merasakan seperti itu lagi. jadi, saya berusaha merasakannya, sesering mungkin. Dan, “olahraga” tidak menyediakan kebebasan yang saya butuhkan untuk mencapai hal itu. Saya pun harus mencari jenis kenikmatan fisik intens lain yang memberi saya kebebasan. Dan, saya
mendapati hampir semua klien saya juga membutuhkan serta menginginkan hal ini.
Bagi saya, hal utama yang memelihara hubungan dengan kegairahan masa muda itu adalah sepeda. Saya menyadari saat menulis artikel ini bahwa saya selalu punya sepeda, sejak berusia 4 tahun. Saya punya sepeda dari SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Saat pindah ke San Fransisco setelah lulus kuliah pun saya membawa serta sepeda saya. Itu sepeda gunung tua yang sudah usang, cocok sekali untuk menjelajah kota. Mengenal kota baru dengan sepeda membuat saya merasa aman dan tidak terlalu “kesepian"-itu membuat saya merasa sebagai bagian dari seluruh kota itu.

Saat pindah dari San Fransisco ke Lake Tahoe, sepeda tua itu juga ikut. Saat musim dingin tiba dan saya harus bepergian, saya akan berjalan atau bahkan mencari tumpangan-hal yang lazim bagi orang muda di kota pegunungan itu. Namun, saya tidak melakukannya dengan gegabah; saya menggunakan kecerdasan yang saya peroleh dari masa kecil untuk menilai setiap orang yang menawarkan tumpangan (biasanya orang yang saya kenal), dan jika itu orang asing dan saya merasa tidak enak, saya menolak dengan sopan.

Lalu, seusai sekolah kuliner di New York, saya pindah ke Milan, Italia, untuk magang sebagai sous chef, dan saya menggunakan tabungan yang tidak seberapa untuk membeli sepeda yang dilengkapi keranjang. Saya menjelajahi setiap sudut kota yang megah itu dengan sepeda. Saat hujan turun, saya terpaksa naik transportasi umum dan menyesalinya. karena bus yang saya naiki penuh penumpang murung yang selalu tertunduk dan diam. Sementara di atas sepeda, saya biasanya bersiul, menyanyi, atau bicara sendiri keras-keras. Bahkan.
sering kali, saat berhenti, saya mendapat kenalan baru. Naik sepeda lebih dari sekadar olahraga bagi saya; itu cara hidup. itulah hidup; 100% vitalitas tulen. Dan masih begitu.

Setelah punya anak, saya menambahkan mainan baru rutinitas bermain saya. Saya menghabiskan banyak waktu bersama pria kecil saya di taman-taman New York yang indah, mendorongnya di ayunan. Setelah bertahun-tahun melakukan ini (dan selalu bertanya-tanya mengapa tempat duduk di ayunan begitu sempit untuk pantat saya yang sudah tumbuh), saya akhirnya mendapat ide dan membeli hula hoop. Sekarang, sementara anak saya berayun sepuas hati, saya berdiri di dekatnya, mengayunkan pinggang, dan bermain hula hoop seperti tiada hari esok. Saat tiba waktunya meneruskan perjalanan, kami berdua pergi dengan lelah dan bahagia.

Saya juga mencoba berbagai permainan lainnya, seperti trampolin dan dodgeball. Saya juga mengajak klien saya ke kelas "Shrink Session", yaitu perpaduan hip-hop, yoga, pernapasan, dan sugesti positif yang membuat Anda merasa tenang, terhibur, serta bebas. Mengatakan hal-hal positif kepada diri Anda sendiri sambil bergerak dalam ruangan bersama orang lain akan melepaskan oksitosin, hormon "cinta", ke dalam aliran darah. lni pengalaman ikatan batin dan kedekatan erat yang belum pernah saya alami di kelas lain. Hal yang menarik, oksitosin adalah hormon yang juga menghambat nafsu-keinginan, dan ini mungkin menjelaskan kenapa kita lupa makan saat jatuh cinta.

ltulah manfaat bermain bagi kesehatan Anda. Bermain akan membuat Anda jatuh cinta-kepada diri Anda sendiri, kemudian berbagai hal yang menyenangkan akan terjadi.
Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.