Tidur Adalah Rantai Emas Yang Mengikat Tubuh Dan Kesehatan

Satu hal yang kita dambakan dalam hidup ini, yang paling Skita butuhkan-tetapi paling sering kita abaikan-adalah tidur.
Tidur, aktivitas penting yang memelihara kehidupan, kurang mendapat penghormatan dalam budaya kita. Bahkan, membanggakan atau mengeluhkan betapa sedikit tidur yang kita peroleh sering dianggap semacam lencana kehormatan. Thomas Edison, sang penemu yang tidak pernah diam, bahkan menyebut tidur sebagai "kejahatan membuang-buang waktu" dan menyombongkan bahwa ia biasa tidur 4 atau 5 jam setiap malam serta bekerja 15 hingga 20 jam sehari. Tentu sai a, Edison juga sering lupa menyebutkan bahwa ia tidur siang cukup lama, dengan dipan terselip di sudut laboratorium, perpustakaan, bahkan di kebun. Jadi, meskipun tidak terlalu menghargai tidur, 
ia membutuhkan dan melakukannya, meskipun dengan cara yang tidak biasa.

Tidur Adalah Rantai Emas Yang Mengikat Tubuh Dan Kesehatan

Penerbit dan aktivis politik Arianna Huffington belum lama ini berbicara di depan sekelompok wanita karier mengenai bagaimana ia akhirnya percaya bahwa tidur adalah kunci penting menuju kesuksesan. Namun, dulu ia tidak seperti itu. Ia baru menemukan pentingnya tidur setelah pingsan di tempat kerja dan kepalanya terantuk meja sehingga tulang pipinya retak dan harus dijahit. Setelah "kecelakaan” ini, yang disebabkan oleh kebiasaannya bekerja berlebihan dan kurang tidur, ia menyadari bahwa tidur adalah isu penting, bahkan feminin, sehingga ia mengajak wanita yang hadir untuk memimpin revolusi dan tidur dengan cukup. Selanjutnya ia mengatakan bahwa sudah waktunya wanita benar-benar “tidur untuk mencapai puncak". Ia pemimpin berpemikiran brilian yang memahami sesuatu yang penting, yaitu wanita perlu menjadikan cukup tidur sebagai prioritas dan kebiasaan hati yang mendasar agar mereka dapat hidup seantusias serta sesukses mungkin.

Sejak era Edison, jumlah tidur yang diperoleh rata-rata orang Amerika turun dari 8,5 jam semalam hingga 6,5 jam semalam. Itu sama dengan hilangnya dua jam menutup mata, atau penurunan nyaris 25% hanya dalam 100 tahun. lni mewakili pergeseran perilaku dalam tempo yang relatif singkat. Anjloknya waktu tidur harus dibayar mahal dengan menurunnya kesehatan kita, kemampuan bekerja, kemampuan untuk tetap aman, bahkan hidup. Para ilmuwan mengumpulkan data mencengangkan yang menunjukkan bahwa tidak ada gunanya

terhuyung-huyung menjalani hidup dengan mata kabur dan mengantuk.
Dan, jika kita ingin menyalahkan seseorang, rasanya pantas bila kita menuding Tuan Edison, yang bertanggung jawab menciptakan bola lampu listrik sehingga mengantarkan kita ke era terang abadi. Namun, hidup di dunia cahaya buatan, terlepas dari segala keuntungannya, menghadapkan kita dengan jam biologis kita, yang ingin-dan butuh-kita tidur lebih dari sepertiga waktu kita, yang artinya, bagi kebanyakan orang minimal delapan jam semalam.
Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.