Tips Mengembalikan Keseksian, Penting! Untuk Menarik Perhatian Suami

Salah satu aspek malu akan tubuh yang nyaris melumpuhkan saya dan membuat banyak wanita tidak bahagia adalah pengaruhnya pada kemampuan mereka untuk mendapatkan serta menikmati hubungan intim. Ini berhubungan erat dengan kemampuan-atau ketidakmampuan kita-menikmati dan menemukan kenikmatan dalam makanan. Dalam kedua hal ini, rasa malu membuat kita tidak jujur mengenai siapa kita serta
apa yang kita butuhkan.

Hampir semua wanita yang makan berlebihan melakukannya untuk menemukan semacam penghiburan emosional yang tidak mereka peroleh dari diri mereka sendiri atau orang lain. Atau, mereka melakukannya, meskipun mungkin di luar sadar, untuk membuat diri mereka tidak menarik supaya tidak perlu bertanggung jawab atas seksualitas mereka. Sebaliknya, wanita yang membuat dirinya kelaparan melakukan hal yang sama, tetapi dengan berjalan ke arah yang berlawanan; mereka benar-benar bersedia melenyapkan diri mereka sendiri untuk mencapai standar seksi yang tidak sehat. Hal yang perlu kita terima adalah seks bukan hanya tentang penampilan fisik-melainkan tentang rasa. Dan, seks pada hakikatnya adalah tubuh merasa enak.

Saya merasa sangat beruntung. Saya tumbuh besar di rumah yang tidak mengumbar seks, tetapi juga tidak menutupnutupinya. Saya mengerti, cukup dini, bahwa seks adalah bagian hidup yang alami juga sehat, dan itu terjadi di rumah yang saya tempati. Namun, itu tidak berarti saya siap menghadapi seksualitas saya yang mulai tumbuh. Saya beruntung tinggal di distrik sekolah yang bagus, yang menawarkan mata pelajaran pendidikan seks selama satu tahun untuk semua anak kelas lima, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. 

Guru saya, Mrs. Brown, kebetulan sedang hamil tahun itu dan hal itu memudahkannya berbicara tentang seks dengan cara yang lugas dan tidak mengintimidasi. Pada awal tahun, ia meletakkan kotak kardus di sudut mejanya dan memberi tahu kami bahwa sepanjang tahun itu kami bisa menulis pertanyaan tentang seks atau tubuh kami dan menjatuhkannya ke dalam kotak kapan saja, tanpa nama. la akan membacakan pertanyaan itu di depan kelas dan menjawabnya, karena jika seseorang di antara kami ingin tahu sesuatu secara khusus, ia yakin yang lain juga menginginkan informasi yang sama.

Saya tidak tahu apa yang mendorong saya untuk melakukannya, tetapi suatu hari saya menulis pertanyaan dan ketika semua orang berbondong-bondong keluar kelas, saya diamdiam menjatuhkannya ke dalam kotak Keesokan harinya, saat tiba waktunya pendidikan seks, Mrs. Brown memasukkan tangan ke kotak dan mengeluarkan satu pertanyaan: "Apa yang terjadi jika kau menelan cairan sperma?” ltu pertanyaan saya!
Saya merah padam saat tawa meledak di seluruh kelas. Saya tidak tahu mengapa menanyakan hal ini, tetapi saya ingat merasa lega bahwa wanita tidak bisa hamil dengan menelan sperma. Sesedikit itulah saya, pada usia 11 tahun, tahu tentang seks.

Dua tahun kemudian, saat pubertas akhirnya tiba, saya merasa seperti berjalan menembus tirai yang tak terlihat dan masuk ke dunia yang lebih serius dan suram. Saya ingat seorang anak perempuan di kelas kami, yang usianya tidak lebih dari 12 tahun saat itu, memberi tahu kami di tempat bermain bahwa pamannya memaksa ia berhubungan badan dengannya. Saya begitu ngeri mendengarnya sehingga melompat turun dari ayunan dan lari! (Untunglah, seorang teman memberi tahu Salah satu guru tentang hal ini). Sekitar waktu itu, saya datang bulan untuk pertama kali, dan tentu saja itu dimulai saat saya di sekolah. Kami berenang untuk pelajaran olahraga hari itu, dan sepanjang tahun itu guru olahraga sudah menanamkan kepada kami bahwa kami dapat melakukan apa pun-termasuk berenang-saat datang bulan. Namun, saya tidak membawa pembalut dan kalaupun membawa saya tidak tahu bagaimana memakainya. Perawat sekolah memberi saya pembalut raksasa
untuk diletakkan di dalam celana, jadi saya harus duduk di bangku penonton sementara semua orang berenang. Itu memalukan dan membingungkan.

Seorang teman saya belum lama ini pergi ke seminar Gloria Steinem. Di akhir sesi, seorang wanita muda-kelas tiga SMA --memberi tahu Ms. Steinem bahwa ada banyak tekanan di antara teman sebayanya untuk melakukan oral seks pada anak laki-laki yang mereka sukai. Ms. Steinem bertanya kepada wanita muda itu, "Yah, mungkin begitu, tetapi Anda dapat apa dari itu?" Teman saya berkata bahwa para hadirin bertepuk tangan dengan meriahnya saat Ms. Steinem melontarkan pertanyaan mendasar yang jarang diutarakan: “Ya, Sayang, tapi bagaimana dengan kenikmatanmu?"
Kenikmatan seksual wanita adalah topik yang tabu dan mengerikan. Dan jelas merupakan topik yang terlalu rumit untuk dikupas tuntas di sini. Namun, ini topik yang harus mulai kita bicarakan dengan jujur dan terbuka, karena saya yakin ekspresi total hasrat serta kenikmatan wanita-termasuk kebutuhan kita akan seks yang penuh gairah-adalah fondasi kesehatan dan kesejahteraan kita.

Kenikmatan yang saya maksud di sini adalah kenikmatan secara menyeluruh, termasuk kenikmatan yang seharusnya kita alami dari hubungan dengan makanan. Di sinilah makanan dan seks terkait, begitu erat. Ketika seks menjadi terlalu berbahaya bagi kita untuk dinikmati sepenuhnya, makanan menjadi semacam seks yang aman bagi kita. Banyak kebutuhan dan hasrat yang sangat sehat akan sentuhan, keintiman, serta seks tersalur menjadi kebiasaan tersembunyi, adiktif, juga tidak sehat yang kita bangun di sekeliling makanan. Makanan sudah menjadi satu-satunya cara memuaskan hasrat kita.

tetapi dengan mengorbankan hubungan kita dengan tubuh kita sendiri.
Tekanan yang luar biasa untuk dianggap menarik, membuat kita rela kelaparan demi mencapai standar yang tidak realistis, atau melahap apa pun agar tidak merasa kesepian atau tidak terpuaskan secara seksual. Di ujung kedua hal yang bertolak belakang ini terdapat dunia kesakitan dan rasa malu tak berkesudahan yang seharusnya kita tinggalkan.

Saya tahu. Saya sudah pernah berada di sana. Dan itu tempat yang mengerikan, gelap, juga sepi.
Saya sungguh merasakan malu seks ketika mengetahui suami saya selingkuh. Bahkan sebelum itu, saya merasa kesepian dan telantar dalam pernikahan saya karena pekerjaan membuat ia jarang di rumah. jadi, saya sendirian bersama bayi kami, mendambakan seks dan merindukan dirinya dengan cara yang sangat berat, bahkan terkadang tak tertahankan. Saya merindukan teman intim saya, pria yang membuat saya terpesona dan menemani saya menemukan begitu banyak hal tentang hidup serta cinta. Saat ia akhirnya pulang dan kami punya waktu bersama, saya mulai meragukan daya tarik saya karena ia berhenti memulai seks dengan saya. 

Saya mulai merasa tidak memadai, tetapi tidak tahu sebabnya. Saat saya mendesak, ia beralasan lelah, banyak kerjaan, atau stres. Singkat kata, ia menutup pintu bagi saya. Saya tidak tahu apa Slang harus dilakukan atau bagaimana memulai komunikasi (lengannya sehingga keraguan saya tentang hasrat saya sendiri kemakin menjadi. Lalu saya tahu; ia tidur dengan seseorang yang la kenal lewat pekerjaan, dan ketika saya bertanya kepadanya tentang wanita itu, ia bilang mungkin ia jatuh cinta kepadanya.

Saat itu juga, dunia saya hancur berantakan. Tidak hanya kehilangan suami, saya juga kehilangan diri saya sendiri. Saya kehilangan diri saya dalam lubang hitam rasa malu yang mengerikan. Rasa malu akan penolakan, rasa malu karena tidak menarik lagi. Itu sangat dahsyat. Dan, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Hidup saya berubah drastis. Saya pindah ke apartemen yang lebih kecil bersama bayi saya dan mulai meraba-raba, berusaha mengumpulkan serta membangun kembali hidup saya. 

Saya merasa tidak aman di dunia dan sama sekali tidak nyaman di dalam tubuh saya. Sekarang, saat sedang berjalan dan seseorang menggoda saya, saya merasakannya sebagai tamparan, alih-alih sesuatu yang bisa saya abaikan begitu saja. Saya merasa bahwa dijadikan objek dengan cara apa pun, bahkan ketika maksudnya memuji, menambah buruk perasaan saya mengenai diri saya. 

Lama setelah itu, ketika berhasil melewati ini semua, barulah saya menyadari bahwa pengkhianatan dapat membingungkan dan mengacaukan banyak hal dengan cara yang menakutkan juga asing bagi saya; perasaan kehilangan kendali, atau lebih tepatnya, tidak dapat mengendalikan arah hidup saya, membuat saya takut. Saya mempertimbangkan dengan serius untuk meninggalkan Kota New York dan pulang ke kampung halaman saya di Portland, Oregon; saya ingin berhenti, lari, dan meninggalkan hidup saya di sana-yakin jika pulang, saya akan merasa lebih aman.

Akan tetapi, saya tahu ini bukan solusi yang sesungguhnya; dan lari dari hidup saya, sehancur apa pun itu, berarti lari dari diri saya sendiri. Jadi, saya bertahan. Dan, saya belajar untuk bertahan dengan diri saya meskipun saya merasa seperti puingf puing rapuh.

Beberapa tahun berikutnya adalah waktunya pengungkapan yang mendalam; tentang siapa saya, apa yang saya percaya, apa yang sesungguhnya saya inginkan dari hidup. Saya tahu bahwa saya ingin merasakan cinta yang dalam dan keintiman dengan laki-laki lagi-secara harfiah. Libido saya membeku, seolah-olah penolakan suami saya adalah tembakan kejut yang diarahkan tepat ke G-spot saya. Saya tidak tahu bagaimana mengakses diri saya yang ceria dan seksi. Saya tidak tahu bagaimana merasa nyaman dalam tubuh saya lagi. Saya merasa terluka dan sendiri. 

Butuh beberapa tahun serta kerja keras untuk menemukan jalan keluar dari keterasingan ini.
Pertama, saya harus benar-benar mengakui bahwa saya memiliki hasrat seksual dan ini sehat juga penting. Saya bisa menghubungi pembimbing, pelatih, serta sahabat yang mendorong saya untuk bicara secara terbuka mengenai hal ini, mendobrak tahu yang membuat saya bersikap rahasia dan menjaga jarak mengenai topik ini.
Awalnya, saya merasa bicara secara terbuka tentang nafsu, daya tarik, gairah-semua itu-membuat saya benar-benar gugup dan, tentu saja, malu serta salah tingkah. Namun, tidak lama berselang, itu membuat saya merasa bersemangat juga sanggup melakukan sesuatu-dan hidup. 

Saya sadar bahwa saya sedang dilatih untuk menyikapi hasrat seks saya dengan keterbukaan dan keingintahuan-seperti saran saya kepada klien saya dalam menyikapi makanan. Saya dinasihati oleh Ariel dan Shya Kane, pembicara di Monday Night Alive, agar menyediakan komunitas dan dukungan yang saya butuhkan
untuk keluar dari keterasingan, bahwa saya harus mendekati laki-laki dan berkencan tanpa penghakiman serta ekspektasi.

Saya harus berpijak dengan mantap dalam kerangka pikiran yang intinya adalah mendengarkan-khususnya mendengarkan tubuh saya dan seperti apa rasanya berada bersama orang yang saya temui. Sekali lagi, beginilah persisnya saya menasihati klien untuk menyikapi makanan. Pasangan Kane menekankan bahwa bertemu seseorang satu kali-satu kali saja, selama satu jam-akan memberi saya banyak informasi penting tentang diri saya, termasuk informasi yang mungkin membawa pada perubahan internal yang riil dan bermakna juga hubungan yang jauh lebih sehat dengan orang lain. 

Saya ingat bagaimana saya mendorong klien saya untuk memberi kale kesempatan, dan saya tahu bahwa saya harus melakukannya, meskipun sudah bertahun-tahun tidak kencan.
jadi, saya mulai kencan, menjajaki, dan berkenalan dengan pribadi seksual saya dengan cara yang baru dan tidak menghakimi. Itu periode yang paling membebaskan dalam hidup saya. Menjadi ibu yang baik adalah prioritas utama. jadi saya bisa menghindari tekanan untuk mencari "pria yang tepat” atau hubungan yang berkomitmen. Alih-alih, saya mengikuti insting dan menjalin hubungan dengan pria atas dasar suka sama suka, tanpa beban dan tekanan. Itu masa yang sangat sehat dalam hidup saya, dan pada fase kencan inilah saya bisa bersatu kembali dengan tubuh saya, mendapatkan kembali kepercayaan diri sebagai wanita yang menarik dan diinginkan, wanita yang baru mulai belajar tentang keinginan serta hasratnya yang terdalam.
Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.