Tips Tidur Agar Tetap Langsing Dan Menawan

Hubungan antara kenaikan berat badan dan kurang tidur, ternyata, sudah banyak diteliti. Para peneliti yang memantau ribuan orang menemukan bahwa ketika subjek tidur kurang dari tujuh jam, risiko obesitas naik hampir 30%. Bagi orang yang tidur kurang dari enam jam, risiko tersebut naik hingga 50%. Dengan kata lain, jika kurang tidur Anda akan menimbun dan mempertahankan lemak-terlepas dari upaya Anda saat bangun untuk mencegahnya. Fakta ini bisa menjelaskan, sebagian, mengapa diet tidak akan berhasil. 
Jika kita semua sibuk mengejar proyek berikutnya, mengurus anak-anak, atau mempersiapkan lomba marathon dengan mengorbankan istirahat yang cukup, kita mungkin mendapati kesehatan kita terganggu dengan cara yang bahkan tidak kita sadari.


Ini menjadi risiko yang jauh lebih besar bagi wanita karena kita butuh lebih banyak tidur daripada pria. Walaupun para peneliti tidak yakin alasannya, sebagian berspekulasi itu karena kita lebih banyak menggunakan otak saat siang ketimbang pria sehingga kita perlu meluangkan lebih banyak waktu bagi korteks (bagian otak yang menangani bahasa dan ingatan) Untuk beristirahat serta memulihkan diri. Apa pun alasan kita butuh lebih banyak tidur, para peneliti sesungguhnya sudah bisa menghitung perbedaannya: wanita, kata mereka, rata-rata butuh tidur 20 menit lebih lama daripada pria setiap malam. Dan, jika tidak mendapatkannya, kita lebih berisiko mengalami depresi, inflamasi, nyeri, serta penggumpalan darah (yang membuat kita lebih berisiko terkena stroke) ketimbang pria.

Dan, tentu saja, hormon kita turut menentukan apakah kita bisa tidur selelap yang seharusnya.
Ada suatu irama dalam kehidupan hormonal kita, dan biasanya perubahan paling drastis datang di awal tahun-tahun subur kita-ketika lonjakan hormon kesuburan dapat membuat bergulirnya siklus bulanan kita lebih kentara [hormon tidur -melatonin-turun saat datang bulan), kemudian pada akhir tahun-tahun subur kita-ketika menopause membuat lonjakan hormon tersebut mereda dan kita mengalami intensitas metabolisme yang berbeda sementara tubuh kita menyesuaikan diri dengan distribusi hormon yang sama sekali berbeda.
Tentu saja, di antara awal masa subur hingga menopause ini terdapat tahun-tahun hamil, membangun karier, merawat orangtua, atau kombinasi ketiganya. Dan, berbagai tanggung jawab ini membuat tidur malam yang nyenyak nyaris mustahil bagi kita.

Saat baru berpisah dari suami, saya mengalami periode gangguan tidur parah dan efek berantainya terlihat jelas pada kesehatan saya: jerawatan, gampang menangis karena tubuh saya pegal akibat kelelahan, jatuh tertidur pada waktu yang tidak biasa, dan mudah marah pada anak saya. Saya tahu satusatunya cara melewati ini adalah berjuang untuk tidur nyenyak pada malam hari. Dibutuhkan kerja keras (dan dukungan yang sangat baik dari teman serta orang terkasih yang membantu saya mengelola stres tersebut), tetapi saya bisa bertahan dan kembali pada kebiasaan tidur sehat serta menjaga hidup terus
berjalan sementara saya memulihkan diri secara emosional.
Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.