Pengalaman Diet Berhasil Turun 10kg Dalam 4 Bulan, Bukan Rekayasa

Ini adalah pengalaman diet yang berhasil oleh wanita cantik penulis buku, lulusan D3 ilmu komunikasi FISIP Universitas Indonesia "Vallesca Sousia" kunjungi beliau di facebook vallesca_s@yahoo.com

Saya sendiri pernah mengalami kelebihan berat badan. Dari yang awalnya 49 kg pada 2008, sejak tahun 2009 hingga awal 2011 lalu, berat badan saya berangsur angsur naik, hingga-believe it or not-60 kg. Whoaa, kebanyang enggak sih? Sedikit lagi tampilan saya menyerupai ibu saya, yang sudah beranak tiga. Hahaha. Awalnya tidak masalah, dua tahun saya sebagai Vallesca yang gemuk. Teman-teman mulai berkomentar, ';Oh my god! Lo kenapa jadi bengkak begini?” Komentar yang seperti itu, mending. Ada yang berkomentar miring, "Linda Hamilton, Bu?" alias hamil. Whaat?? Gue dikira hamil. Menikah saja belum. Saya berusaha menenangkan diri. I'm not that bad, right?

Berusaha berkali-kali tetap menanamkan, pede, pede aja. Nyatanya, saya enggak bisa membohongi diri sendiri. Ketika baju-baju yang keren sudah enggak muat di tubuh ini lagi, ketika jalan di mal, fitting baju yang oke enggak pernah pas, wow! Rasanya, saya sudah tidak bisa lagi berkata, saya akan baik-baik saja, atau saya pede-pede saja dengan berat badan 60 kg dan tinggi 153 cm.

Pengalaman Diet Berhasil Turun 10kg Dalam 4 Bulan, cara diet yang berhasilSaya harus mengembalikan berat badan, ke berat badan saya semula, pikir saya. Karena, jujur saja, pakai baju pun tidak nyaman.. Enggak bisa berkreasi, sedangkan saya orang yang suka bereksperimen dengan penampilan. Mulailah mencari cara untuk menurunkan berat badan. Sama seperti cewek cewek umumnya yang suka cara instan. Ya, awalnya saya juga mengikuti jejak mereka, kok. Percaya deh, jangan diikuti ya! lt doesn't work out well. Mulailah minum obat pelangsing, dari yang yang pil, teh herbal, sampai menjalani akupuntur, totok, dietlah, dengan cara enggak makan malam, hasilnya? Turun sekilo, beberapa kemudian balik lagi ke berat semula. Tidak memberi kontribusi yang signifikan. Yang ada malah jadi stres karena melihat jarum timbangan enggak turun turun.

Lalu, suatu hari, adik dan sahabat saya berkata, ”Fitnes yuk.” Hah? Fitnes? Yang benar saja, Bow! Lari pagi lima menit saja, pasti bibir pucat dan mau pingsan, ini diajak gabung di klub fitnes. Kayaknya enggak mungkin, deh. Nanti takutnya sudah telanjur bayar mahal-mahal, tetapi jarang datang fitnes. Awalnya, ogah-ogahan juga. Gabung enggak? Gabung enggak ya? Anyway, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di sebuah pusat kebugaran. Berhasil juga adik dan sahabat saya itu membujuk saya.

Pertama kali bergabung, apa yang saya prediksikan, bahwa saya enggak bakal kuat olahraga, memang terjadi, di awal sesi. Saat itu, masih di bawah arahan personal trainer (tiga kali' gratis bersama personal trainer, ceritanya). Disuruh treadmill 15 menit. Busyet, kaki pegel-pegel minta ampun. "Mas, kaki saya sakit, Mas,” rintih saya. Sang personal trainer yang perkasa dan galak bak komandan militer itu bergeming dengan keluhan saya. Yang dia lakukan hanya menurunkan kecepatan. Baiklah, usaha terus. Lima menit lagi. Jantung berdetak kencang, keringat bercucuran, tetapi, ”Pleasee, . enggak boleh pingsan!” Saya berteriak dalam hati. Malu sama komandan militer yang tengah mengawasi saya.

Fiuhh, untung 15 menit penyiksaan itu sudah berlalu. ”Pusing?" kata si PT alias Personal Trainer. Kalau pusing, berdiri dulu saja, melakukan sedikit streching. ”Ah, Mas PT, kau baikjuga...," batinku. Iya, baik sebentar, untuk 15 menit pertama. Jangan sedih, masih ada sesi berikutnya, yangjauh lebih berat. Saat itu, pada hari pertama saya fitnes, saya merasa seperti disiksa. Hahaha.

Habis treadmil, saya diminta melakukan push up, sit up, latihan keseimbangan, adalah gerakan ketika satu kaki diangkat, tangan direntangkan, yang pasti membuat saya terjatuh-jatuh. Sementara sit up, membuat saya setengah mati, berjuang untuk bangun. Selama satu jam latihan.

Bukan main rasanya. Di akhir sesi, Mas PT menambahkan pesan.
Katanya, "Mbak, jangan makan karbo dulu. Nasi putih jangan." "Terus makan apa, ya?” tanya saya.

”Makan dada ayam tanpa kulit, gril/ed. Ikan grilled. Salmon, Gindara. Sayur-sayuran, brokoli bagus. Buah-buahan,” jelas PT.

Saya sanggupi saja sarannya.

Besok paginya, sekujur tubuh saya sakit. Kedua lengan tangan seperti mau patah, demikian paha. Malam harinya badan saya panas. ini bukannya lebay, lho! Ternyata, menurut penjelasan PT, reaksi ini wajar karena selama berpuluh tahun, otot-otot tubuh saya enggak pernah dilatih. Ya, begituah rasanya.-Tapi, enggak lama kok, setelah dua hari, badan kembali seperti semula dan fit.

Saya kelebihan lemak 13 kilo, itu yang harus diturunkan. The target! Namun, setelah badan sakit-sakit, mau balik ke tempat fitnes malas-malasan juga. Seminggu deh, absen enggak fitnes. Oooo..., gawat nih. Bagaimana caranya, saya berusaha mengumpulkan kembali motivasi, target melenyapkan kelebihan lemak 13 kilo itu! Lalu saya melihat ada buku panduan jadwal, Jadi, di fitnes club, tersedia juga kelas-kelas senam. Untuk yang latihan kardio dan kelenturan otot tubuh. Kelas kardio, isinya beragam dance kardio, atau bahasa dulunya aerobik. Kalau aerobik kan, kayaknya old school banget yah. Nah, kardio dance yang disediakan kini seperti body jam, body combat, modern banget, dengan musik R&B, hip hop, house music, sampai Latin. Gerakannya juga seksi. Yang pasti, lompat-lompat abis. Karena saya suka nge-dance, saya mencoba ikut kelas saja. Siapa tahu lebih fun.

Iya, memang lebih fun. Di kelas kardio dance, rasanya seperti sedang berjodet di klub atau party. Enggak terasa kalau sebenarnya lagi membakar kalori. Kelas kardio dance ini durasinya satu jam. Kalau kita mengikuti gerakan dengan sungguh-sungguh, satu jam itu bisa membakar paling enggak 500 kalori. Namun, kalau enggakterbiasa olahraga, memang, awal-awal ikut kelas akan terengah-engah dulu. Awalnya saja kok, pengalaman kedua, ketiga, it's totally fun!

Karena merasa enjoy, saya mencari jadwal kelas yang sama untuk keesokan harinya, dan esoknya lagi. Sisa dua program bersama personal trainer tidak saya ikuti. Merasa lebih enjoy nge-dance, saya memilih membuang kalori di kelas. Namun, ada saatnya, saya mencoba melatih kekuatan dan daya tahan tubuh dengan melakukan treadmill. Semua harus bertahap dan perlahan. Dimulai dengan jalan kecepatan sedang di lima menit pertama, lalu menambah kecepatan lagi, hingga di menit kedelapan, saya mulai berlari dengan kecepatan sedang. Pada minggu-minggu pertama, saya membakar
kalori di treadmill selama setengah jam, Pada minggu ketiga, saya sudah bisa membakar kalori di treadmill 45 menit hingga 1 jam. Saya menargetkan, setiap kali treadmill, harus terbakar 200-300 kalori.

Sudah kuat dengan kardio, lalu saya mengetahui dari perbincangan saya dengan PT, kalau otot itu tetap harus dilatih dan dibentuk. Jika otot-otot kita terbentuk di seluruh tubuh, lemak akan susah membengkak. Otot yang kuat, mereduksi penimbunan lemak. Oke. Saya ikuti. Saya merasa perut dan pinggang saya yang lebar, jadi saya mulai melatih otot perut. Melakuan sit up sebanyak mungkin yang saya bisa. Untuk sit up, ada pilihannya. Kamu bisa melakukannya dengan alat yang sudah tersedia di tempat gym, atau kamu bisa melakukannya secara manual. Gelar matras, kedua kaki ditekuk, badan direbahkan. Kedua tangan disatukan, lurus ke depan, dan mulailah mengangkat badan-lakukan setidaknya 5 set. Setiap setnya, 10 hingga 12 kali hitungan.

Saya memang capek. Terengah-engah. Belum lagi menjaga pola makan. Makan tetap tiga kali sehari. Saya memulai pagi hari dengan sarapan oatmeal, atau roti gandum dengan tuna, tomat, salada, setiap pukul 8 pagi. Siang hari, saya makan dada ayam atau ikan bakar dipadu sayur-sayuran dan buah-buahan. Orang akan bertanya-tanya, masa bisa enggak makan nasi? Bisa, karena sayur-sayuran dan buah-buahan juga mengandung karbohidrat. Kandungan karbohidrat dalam nasi putih sangat tinggi, jadi konsumsi nasi putih yang berlebihan perlu dihindari. Kalau enggak kuat, lebih baik makan nasi merah.

Jeda dari makan siang hingga makan malam, saya mengonsumsi biskuit rendah kalori, buah-buahan atau jus. Makan malam saya antara pukul 6 atau jam 7. Yang saya konsumsi lagi-lagi dada ayam dengan sayur-sayuran atau salad. Pola makan ini saya jalani dengan menghitung kalori. Saya mematok, sehari hanya mengonsumsi 1200 kalori. Dibagi untuk pagi, siang, dan malam. Pola makan yangjalani juga enggak sembarangan direka-reka sendiri. Selain tadi, saran dari personal trainer, saya juga mengikuti tip dan arahan dari dokter gizi dan nutrisi yang kebetulan bekerja sama dalam artikel konsultasi gizi dan nutrisi yang saya asuh. Jadi, intinya kita tetap harus makan. Yang perlu dihilangkan adalah kebiasan ngemil. Juga, mulailah memilih makanan kita dengan makanan-makanan yang sehat. Sehat artinya, kalori mencukupi keperluan tubuh, tidak berlebihan, kadar lemak rendah, protein tinggi.

Benar saja, setelah dua bulan, menimbang di klub fitness, jarum timbangan sudah bergerak. Dari yang tadinya 60 kilogram, dalam waktu dua bulan turun menjadi 56 kilo. Melihat hasil yang lumayan signifikan, saya jadi semangat. Akhirnya, saya jadi lebih sering olahraga. Sekalian berbagi nih, untuk hasil yang efektif, kita perlu berolahraga minimal tiga kali dalam seminggu. Saat itu saya melakukannya bisa lima kali dalam seminggu. Awalnya, memang seperti sebuah keharusan, demi menurunkan bobot tubuh. Namun, lamakelamaan, hal itu menjadi sebuah kebiasaan. Bangun pukul 6 pagi, pergi ke tempat fitnes, melakukan kardio 30 sampai 60 menit, lalu latihan otot-khususnya perut dan tangan. Kalau enggak olahraga sehari saja, percaya apa engak, rasanya justru seperti ada yang kurang. Beberapa wanita di tempat fitness, yang baru bergabung, bertanya, ”Benar enggak sih, Mbak, fitnes bisa menurunkan berat badan?”. Jawabannya bisa. Hanya membutuhkan proses dan kedisiplinan. Kalau olahraga, tetapi pola makan tidak diatur, jangan mengeluh kalau bobot timbangan tidak turun-turun.

Lantas, bagaimana caranya menahan nafsu ngemil atau pola makan berlebihan?

Pola makan atau nafsu makan yang berlebihan, sebenarnya dipengaruhi oleh faktor diri kita sendiri, lingkungan, dan kebiasaan. Sebagai contoh, keluarga kita senang ngemil sambil nonton televisi, atau sehari-hari suka dengan makanan yang digoreng, berminyak. Jadi, mau tidak mau, kita terpola mengikuti kebiasaan yang ada itu.

Kedua, adalah diri kita sendiri. Ketika stres, banyak kerjaan, mengejar deadline, banyak juga yang melampiaskannya ke makanan. Well, kondisi yang satu ini saya alami juga. Saya bekerja di media yang selalu berhadapan dengan yang namanya deadline. Semakin malam, kerjaan belum kelar, semakin stres. Kebetulan lagi, orang-orang di kantor hobi makan. Dan yang namanya makanan anehnya selalu saja ada, entah dari narasumber, dari klien, dari hasil uji coba rubrik masak-memasak. Pokoknya selalu ada. Makananmakanan itu, sialnya, suka datang di malam hari! Whoaa!! Kacau, kan?

Jadi, cara menahan nafsu dan menolak makanan-makanan itu, ya rajin berolahraga. Kok klise jawabannya? Tunggu dulu, ada triknya. Ketika nafsu mulai menggoda kamu, bayangkan, tadi pagi kamu habis berlari mati-matian sejam di treadmill dan baru membakar 400 kalori. Masa mau dirusak dengan makan piza yang mengandung 400 sampai 500 kalori? Boleh sih, kalau mau ngotot makan, tetapi artinya setelah mengunyah piza itu kamu harus kembali melakukan treadmill selama satu jam. Kalau saya, memilih tidak menyentuh piza itu dan mengalihkan ke pekerjaan. Jika perut memang lapar, lebih baik mengambil biskuit yang berbobot 80 hingga 100 kalori. Di pasaran, dijual kok biskuit yang enak-enak, tetapi berkalori rendah. Trik ini yang saya terapkan pada diri saya, dan berhasil! Ketika ada makanan lezat, mmm, misalnya Iasagna, fetuccini, wooww siapa yang kuasa menolak? Saya langsung membayangkan, saya habis lari, nge-dance habishabisan, masa mau dirusak dengan sepotong Iasagna yang berkalori tinggi? Oya, perlu kamu ketahui, ada makanan lezat macam Iasagna, fetuccini, sandwich, yang rendah kalori. Memang hanya bisa didapatkan di tempat-tempat tertentu.

Cara lainnya adalah, kamu harus membunuh stres atau pikiran-pikiran negatifyang memicu kamu melampiaskannya ke makanan. Ada kelas-kelas tertentu seperti yoga, dan body balance, yang dapat membantu melepas energi negatif. Sehabis mengikuti kelas-kelas ini, kamu akan mendapatkan keseimbangan baru. Secara nggak langsung, gerakangerakan yang dilakukan mendorong sistem organ tubuh kita melakukan detoksifikasi dengan sendirinya. Racun keluar, energi yang negatif pun turut keluar. Yang kita rasakan sehabis mengikuti kelas ini adalah kesegaran, pikiran yang fresh, dan tubuh rasanya benar-benar bersih. Jika sudah merasa demikian, percaya deh, kamu akan urung mengotori tubuh kamu dengan makanan-makanan berlemak dan berkalori tinggi.

Jika stresnya disebabkan kerjaan yang belum kelar-kelar juga, bukan makan solusinya. Solusinya tetap fokus pada kerjaan tersebut. Atau rehat sejenak 15 sampai 30 menit dengan internet, melihat-lihat majalah, ngobrol, atau bersenda gurau sebentar dengan rekan kerja, lalu balik ke layar komputer kamu. Biar cepat kelar! Semakin lama kamu mengerjakan sesuatu, godaan yang menghampiri juga semakin panjang. Jadi, lebih baik bekerja seefektif mungkin. Tiba saatnya pulang, ya pulang.

Pada bulan ketiga, pola makan saya agak lebih bervariasi. Nggak selempeng pada dua bulan pertama. Pagi bisa makan sandwich, siang makan nasi merah lengkap dengan sayur dan lauk pauk, malam hari makan salad. Normal, kan? Bedanya hanya semua yang dikonsumsi itu rendah kalori. Bagaimana caranya kita tahu apa yang kita makan rendah kalori? Saatnya kamu lebih cermat dan peduli dengan bahan makanan yang kamu beli. Tiap produk makanan yang dijual di supermarket, biasanya mencantumkan nilai nutrisi. Di sana akan tercantum berapa energi total dan kalorinya, berapa banyak kandungan lemak, dan proteinnya. Dalam bungkus roti gandum, ada yang mencantumkan nilai nutrisi ini. Demikian dengan karung beras merah, beberapa ada yang mencantumkan nilai nutrisinya. Ini yang perlu diperhatikan. Dada ayam yang digoreng memiliki kandungan 470 kalori, sementara dada ayam yang dibakar tanpa kulit, kandungannya hanya 150 kalori. Beda jauh, kan?

Mulai sekarang, pilah-pilah dan perhatikan kalori dari makanan yang kita konsumsi. Mulailah ganti kebiasaan kamu dengan kebiasaan hidup sehat. Tinggalkan obat-obatan, yang menjanjikan A-Z bisa memperlangsing tubuh kamu. Syarat penurunan berat badan adalah bila energi (kalori) yang masuk lebih sedikit daripada yang keluar. Jika berat badan kamu tidak turun, meskipun sudah berolahraga, tandanya selama seminggu itu makanan yang masuk sesuai persis dengan kebutuhan energi untuk beraktivitas dan berolahraga. Jangan lupa, diet bukan berarti tidak makan atau melewatkan waktu makan. Kebanyakan wanita berpikir dengan melewatkan waktu makan akan cepat kurus. Padahal, bukan begitu. Dengan melewatkan jam makan yang seharusnya, kita malah memperlambat laju metabolisme tubuh. Ini dia yang membuat kita sudah berlapar-Iapar, tetapi tetap gemuk. Pernah mengalaminya? Diet itu bukan pantang makan, melainkan mengatur pola makan.

Pada bulan ketiga, berat tubuh saya sudah turun 7 kilo, bulan keempat mencapai 10 kilo. Saya tetap bergerak, berlari, karena masih ada target untuk turun 3 kilo hingga kembali memiliki berat badan yang ideal. Kini, baju-baju dua tahun yang lalu sudah muat lagi di tubuh ini. Temanteman kantor pun mulai membaca perubahan yang terjadi pada tubuh saya. Bonusnya, olahraga tidak hanya membuat berat badan turun, tetapi membentuk postur tubuh lebih menarik, membuat kita berpikir positif, lebih percaya diri. Satu tambahan lagi, kulit pun jadi lebih licin dan bersih. Setiap keringat yang keluar pada saat kita berolahraga mengeluarkan racun-racun dalam tubuh sehingga membuat kulit lebih bersih.

Jadi, jangan enggan untuk mencoba berolahraga. Saya dulu juga bukan orang yang suka berolahraga. Sekarang, saya bisa bilang, saya ”kecanduan", karena manfaat yang saya rasakan sangat positif. Pada minggu-minggu pertama mungkin agak berat, lama-lama enggak kok. Di tempat fitness, kamu akan bertemu banyak orang dengan gaya hidup sehat sehingga kamu akan termotivasi dengan sendirinya. Tip ini tidak mengharuskan kamu bergabung di pusat kebugaran kok. Itu pilihan, olahraga kan enggak harus di tempat fitness. Bedanya, berdasarkan pengalaman saya, di tempat fitness, kamu lebih termotivasi. Karena lingkungannya memang orang-orang yang sadar hidup sehat, sadar untuk menjaga tubuh, dan setiap kamu berlari atau melakukan kardio, ada monitor yang memaparkan seberapa jauh usaha yang sudah kamu lakukan. Di layar treadmill, contohnya, bisa terlihat selama 10 menit sudah berapa kalori yang terbakar. Ketika kamu melihat sudah mencapai 100 kalori kamu akan merasa senang, dan terpacu untuk terus berlari. Kamu malah bisa berkata,”Ah, tanggung ah berhenti sudah 100 kalori. Gimana kalau sampai 200 saja?” Ada televisi, ada juga musik yang menghibur kamu sehingga olahraga tidak akan terasa membosankan.

Namun, jika kamu memilih joging di sekitar lingkungan rumah, enggak masalah juga. Ada juga kok gerakan-gerakan yang-misalnya-bisa memperkecil perut dan pinggang yang bisa dilakukan di rumah. Di sini, saya akan membaginya dengan kamu. Gerakan-gerakan ini saya pelajari dalam sesisesi kelas, dan beberapa dari arahan personal trainer, yaitu sesi kelas, dan beberapa dari arahan personal trainer, yaitu gerakan-gerakan pelatihan otot. Pada dasarnya, perempuan malas melakukan latihan pembentukan otot. Pembelaannya klise, ”Serem ah, nanti masa badanku kayak Ade Rai?" Tenang, perempuan tidak memiliki hormon yang mendukung pembentukan otot hingga seperti Ade Rai, kok ;)

Latihan otot dengan menggunakan alat maupun berat tubuh kita sendiri sebagai beban, memiliki manfaat yang banyak. Sebagai contoh, kadar kolestrol menjadi lebih rendah, jantung lebih sehat, kepadatan tulang lebih baik, dan ketika otot menguat, otomatis lemak akan cepat terkikis. Waktu pembakaran lemak yang terjadi melalui latihan otot juga lebih panjang, ketimbang pembakaran melalui latihan kardio. Otot itu sendiri adalah mesin pembakar lemak yang paling efektif.

Jika ingin memiliki tubuh indah, kencang, padat, dan berkadar lemak rendah, mulailah melakukan latihan beban. Tidak harus angkat beban, lho. Tubuh kita sendiri adalah sebuah alat latihan kekuatan. Dia memiliki sistem yang luar biasa. Bisa berbicara, berjalan, hidup dan bernapas. Bisa kita tekuk, bisa kita dorong, diputar, berjongkok, dan mengolahnya menjadi otot. Ini dia beberapa latihan beban badan yang bisa kamu lakukan sendiri di rumah.

Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.