Jangan Berlebihan Makan Daging Karena Menyebabkan Kanker & Cepat Tua

efek makan daging, gara gara makan daging, bahaya mengonsumsi daging banyak, Jangan Berlebihan Makan Daging Karena Menyebabkan Kanker & Cepat Tua

Anda yang gemar makan daging merah perlu waspada. Selain cepat tua, penggemar daging terbukti lebih berisiko tinggi terserang kanker.

Tak dapat dipungkiri, daging adalah makanan bergizi yang kandungan proteinnya tinggi dengan kualitas baik. Daging juga termasuk salah satu sumber zat besi.

Di negara Barat dikenal istilah white meat (daging putih) untuk menyebut daging unggas dan red meat(daging merah) untuk daging sapi dan kambing. Daging putih dinyatakan lebih sehat karena kandungan lemak jenuhnya lebih rendah. Daging putih juga rendah kolesterolnya bila dikonsumsi tanpa kulit (kulit ayam).

Bila kita memasak daging, sapi maupun ayam, terbentuklah senyawa HCA (amina-amina heterosiklis). HCA ini muncul sebagai reaksi antar-protein hewani selama proses browning (pencokelatan). Sayangnya, HCA tak terdapat di permukaan daging, sehingga kita tak bisa mengeruknya seperti membuang arang pada makanan gosong.

Cara memasak mempengaruhi jumlah HCA yang terbentuk. Semakin sedikit HCA yang terbentuk, semakin sehat daging yang kita makan. Memanggang daging di dalam oven akan menghasilkan HCA lebih sedikit dibandingkan menggoreng, membakar, dan memanggang di atas kompor yang suhunya tinggi.

Namun, merebus secara perlahan-lahan dengan panas bertahap, mengukus, dan memasak dengan oven, praktis tidak menghasilkan HCA. Senyawa ini paling banyak ditemukan pada daging babi asap yang digoreng. (islam, awas jangan makan daging babi, Haram menurut islam)

HCA adalah zat penyebab mutasi yang dapat merangsang munculnya radikal bebas dan secara luas merusak DNA sel-sel tubuh manusia. Radikal bebas adalah elektron yang tidak berpasangan, dan dalam rangka mencari pasangannya tersebut dia merusak sel.

Berbagai percobaan pada binatang menunjukkan HCA mengakibatkan kanker usus besar, payudara, pankreas, hati, dan kandung kemih. HCA bertanggung jawab terhadap meningkatnya kejadian kanker payudara dan usus besar pada wanita di Amerika. Sebagaimana diketahui, konsumsi daging penduduk Amerika relatif tinggi dibandingkan dengan penduduk di belahan dunia lainnya.

Sertai Minum Teh

Sebuah studi yang dilakukan New York University Medical Center menunjukkan bahwa wanita yang rajin makan daging merah lebih berpeluang menderita kanker payudara dua kali lebih besar dibandingkan yang hanya mengonsumsi daging unggas dan ikan. Namun, ini tidak berarti kita harus berpantang mengonsumsi daging sapi. Boleh saja makan daging sapi, yang penting frekuensinya jangan terlalu sering.

Konsumsi daging seyogyanya selalu disertai dengan makan sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai sumber antioksidan. Buah-buahan seperti jeruk kaya akan vitamin C yang merupakan antioksidan yang kuat. Sayuran yang ben/varna hijau juga tinggi kandungan vitamin Cnya.

Selain itu, membiasakan minum teh sehabis makan daging juga akan mendukung kesehatan tubuh. Di dalam teh terkandung katekin, antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh kita.

Konsumsi pangan sumber antioksidan akan menetralisasi pembentukan HCA dan radikal-radikal bebas yang akan merusak sel tubuh. Antioksidan juga akan menangkal pengaruh buruk nitrosamin yang dihasilkan bila kita mengonsumsi daging olahan yang diawetkan.

Bumbu-bumbuan seperti bawang putih dan cabai hijau, yang seringkali kita gunakan untuk menambah lezatnya daging yang kita masak, ternyata juga dapat berfungsi untuk menekan nitrosamin (mendatangkan risiko kanker). Fungsi semacam itu ada pada wortel dan tomat.

Jadi, alam sebenarnya sudah menyediakan gizi dan nongizi, yang bila diramu dengan baik akan bermanfaat bagi kesehatan kita. Unsur buruk dari suatu jenis makanan sebenarnya dapat dinetralisasi dengan kehadiran jenis pangan lain.

Gajih dan lemak hewan sangat kaya akan HCA. Karena itu, membuang gajih saat memasak daging jelas lebih sehat. Hanya kadangkadang ada lemak yang tersembunyi (invisible fat) yang tidak terlihat oleh mata. Lemak tersembunyi ini ikut masuk ke dalam mulut bersama daging yang kita makan.

Cepat Tua

Terlalu sering makan daging berarti mempersiapkan diri untuk lebih cepat tua. Mengapa? Karena kita lebih banyak senyawa HCA, yang berpotensi merusak sel tubuh. Bila sel-sel kita cepat rusak, proses penuaan dini sebenarnya sedang berlangsung.

Sebaliknya, orang-orang yang rajin makan antioksidan adalah kelompok yang sudah mempersiapkan diri untuk menangkal proses penuaan dini. Etnik Sunda, sebagai contoh, menyukai lalap sayuran mentah, sumber antioksidan. Hasilnya pada penampakan kulit yang bersih dan halus. lni bukti bahwa peremajaan sel-sel kulit pada suku Sunda berlangsung optimal, sehingga mereka tampak selalu segar karena banyak mengonsumsi antioksidan.

Dengan mengetahui sisi buruk akibat mengonsumsi daging (berlebihan), tidak berarti kita harus berpantang daging. Sebagai sumber protein yang baik, daging tetap perlu dikonsumsi. Dengan demikian, fungsi untuk pertumbuhan tubuh dan mengganti sel-sel yang aus, masih tetap bisa berlangsung.

Konsumsi daging di masyarakat indonesia dapat dikatakan masih relatif rendah karena harganya mahal. Namun, bagi golongan menengah ke atas yang sudah menikmati kemakmuran, mengonsumsi daging bisa dilakukan kapan saja.

Golongan inilah yang harus berhati-hati dan mencermati aspek negatif, akibat terlalu banyak makan daging. Ancaman HCA dan nitrosamin tidak dapat diabaikan begitu saja, kecuali memang ingin cepat tua dan terserang kanker.

Hot Dog dan Kanker Otak

Bagaimana dengan daging olahan seperti hot dog, daging asap, dan kornet? Proses pengolahan daging menghendaki kehadiran pengawet yang membuat daging tetap berwarna kemerah-merahan. Pengawet tersebut adalah natrium nitrit.

Didalam lambung manusia, natrium nitrit akan diubah menjadi nitrosamin yang mendatangkan risiko kanker. Kadang nitrosamin sudah terbentuk pada daging, tanpa menunggu sampai di Iambung manusia, misalnya pada daging babi asap. (dilarang mengonsumsi daging babi)

Oleh karena itu, kita perlu bijaksana dalam mengonsumsi daging olahan yang sudah mengandung natrium nitrit. Ekspose daging olahan ke dalam tubuh secara terusmenerus akan kurang baik bagi kesehatan namun kalau sekali-kali makan tentu boleh-boleh saja.

Peneliti di University of North Carolina menemukan bahwa anakanak muda yang makan hot dog sekali atau lebih dalam seminggu menghadapi risiko kanker otak dua kali lipat dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsinya. Dan mereka yang menelan vitamin-vitamin antioksidan (A, C, E), ternyata tidak mudah terkena kanker otak. lni menunjukkan peran penting dari antioksidan di dalam melawan radikal bebas dan zat-zat ' karsinogenik (penyebab kanker).

Untuk memangkas peran aktif HCA di dalam daging, dapat dilakukan dengan rekayasa teknik pengolahan, yaitu mencampurkan kedelai ke dalamnya. Bila hamburgeryang dijual oleh restoran fast food dicampur dengan sedikit kedelai, bahaya kanker di seluruh dunia akan dapat dikurangi secara signifikan.

Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.