Menciptakan Kebugaran Tubuh Dimasa Senja

Menciptakan Kebugaran Tubuh di Masa Senja
Image copyright kuvo.org

Berada di usia lanjut kadang membuat seseorang lemah, tidak bersemangat, merasa tidak berguna, dan jauh dari kesehatan prima. Seakan masa lansia hanya menunggu vonis alam. Kondisi semacam ini mestinya ditepis sejauh mungkin. Tumbuhkan motivasi yang kuat untuk mencapai kondisi bugar di usia selanjut mungkin.

Hitungan tahun yang telah dilalui menjadi dasar seseorang memasuki wilayah lansia. Namun, perlu diingat, usia seseorang tidak hanya diukur dari jumlah tahun yang dilewati. Orang yang berulang tahun ke-60 tidak harus lebih tua dibandingkan dengan yang berusia 50. Penampilan seseorang lebih banyak tergantung pada kesehatan fisik dan mentalnya.

Menciptakan kebugaran tubuh di masa senja bukan suatu hal yang sulit atau mustahil. Dukungan makanan yang tepat ternyata mampu berperan menjadikan masa lansia penuh semangat, energik, produktif, dan tetap bugar.

Kelihaian memilih makanan tepat dari segi jumlah, jenis, cara menyajikan dan pengolahannya akan memberi banyak dukungan bagi terbentuknya kesehatan prima di masa lansia. Meskipun bukan satusatunya faktor untuk menjaga kebugaran, makanan berkemampuan mencegah, meringankan, bahkan menyembuhkan beberapa jenis
penyakit.

Pentingnya Memilih Makanan

Kemunduran biologis yang berkaitan dengan diet dan pencernaan yang dialami lansia, menuntut pentingnya pengaturan makanan secara khusus. Seringkali timbul beberapa keluhan pada lansia, seperti: 1) kesulitan mengonsumsi daging dan makanan yang keras akibat gangguan gigi dan gusi, 2) merasa tidak nyaman saat mengonsumsi susu karena laktose intoleran (tidak bisa menerima zat laktose yang ada di dalam susu), 3) kehilangan selera makan akibat menurunnya indra perasa, dan 4) menyukai makanan yang berasa tajam akibat sensitivitas penciuman yang juga menurun.

Menurut Exton-Smith dalam Encyclopaedia of Food Science, Food Technology and Nutrition (1993) pada lansia terjadi kecenderungan rawan gizi. Ada beberapa faktor penyebabnya, seperti kesepian, ketidaktahuan, keterbatasan keuangan, ketidakmampuan fisik, kebingungan mental dan depresi, penggunaan obat, kesehatan gigi yang terganggu, kesulitan menyerap makanan, dan sebagainya. Untuk beradaptasi dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut dibutuhkan perencanaan menu khusus pada lansia.

Dengan adanya perencanaan menu yang tepat pada lansia, diharapkan dapat meminimisasi risiko kekurangan gizi, atau sebaliknya kelebihan gizi. Kondisi kekurangan gizi pada lansia dapat berbentuk KKP (kurang kalori protein) kronis, baik ringan maupun berat. Tanda-tanda dari keadaan ini dapat berupa kekurusan atau lebih rendah dari berat badan baku.

Adapun kejadian gizi lebih pada lansia biasanya berhubungan dengan perubahan gaya hidup, yang menimbulkan dampak terhadap pergeseran pola konsumsi makan yang tidak sehat. Kondisi seperti ini banyak terjadi di daerah perkotaan yang mengarah pada pola diet tinggi lemak dan rendah serat.

Akibat gizi lebih adalah terjadinya obesitas atau kegemukan pada lansia yang meningkat dan berisiko terjadinya penyakit degeneratif. Kecenderungan mudah menjadi gemuk pada lansia juga diakibatkan menurunnya tingkat aktivitas fisik dan metabolisme lemak yang tidak sempurna, karena menurunnya hormon pembakar lemak.

Makanan yang Tepat 

lenis makanan yang tepat bagi lansia adalah yang mampu berperan mencegah atau setidaknya dapat memperlambat munculnya kondisi osteoporosis, diabetes mellitus, jantung, atau penyakit degeneratif lainnya. Pada dasarnya kebutuhan gizi lansia hampir sama dengan orang dewasa, tetapi sedikit berbeda dalam hal kuantitasnya.

Selain itu, juga tidak ada jenis makanan yang spesifik untuk lansia. Namun, untuk menentukan jenis diet lansia harus dipertimbangkan kondisi kesehatan, penurunan kemampuan dalam mencerna, serta perubahan selera makan.

Oleh sebab itu dalam menyajikan makanan untuk lansia ada beberapa hal yang harus dierhatikan, yaitu kecukupan gizinya serta konsistensi dan tekstur makanan, sehingga lansia tidak mengalami kesulitan dalam mencerna dan terhindar dari masalah gizi salah (malnutrisi).

Pedoman jenis makanan

1. Pola makan beragam dan bergizi seimbang.

2. Asupan energi dan lemak dibatasi untuk mencegah penimbunan kalori dalam tubuh, sehingga terhindar dari kondisi obesitas.

3. Komponen zat gizi yang penting menunjang kebugaran di usia lanjut, seperti sumber antioksidan (betakaroten, vitamin C, vitamin E ), vitamin D, dan kalsium.

4. Konsumsi serat dan cairan yang cukup setiap hari.

Pendukung kebugaran tubuh, tapi sering kekurangan

1. Sumber Vitamin E: minyak sayur, biji gandum, sayuran, buahbuahan, daging, dan ikan.

2. Sumber vitamin C: jambu biji, jeruk lemon, mangga, melon, daun singkong, bayam, sawi, brokoli, bunga kol, dan lain-lain.

3. Sumber betakaroten: sayuran berdaun hijau (bayam, kangkung. daun waluh, sawi hijau, brokoli, daun singkong, dan sayuran hijau lainnya), sayuran benNarna kuning (wortel, ubi jalar, waluh).

Masalah Diet Lansia dan Solusinya

- Penurunan Sensitivitas Indra Penciuman dan Perasa
Kemunduran atau perubahan terhadap sensitivitas indra perasa dan penciuman sering tidak disadari karena perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan. Kemunduran sensitivitas terhadap rasa manis dan asin diduga lebih cepat menurun dibandingkan pahit dan asam. Itu sebabnya para lansia sering protes makanannya kurang garam atau kurang gula.

Penurunan sensitivitas indra penciuman membuat makanan seolah kehilangan aromanya, sehingga kurang menarik dan tidak menyenangkan. Akibatnya para lansia kehilangan selera makan dengan risiko kekurangan gizi.

Salah satu faktor pemicu cepatnya penurunan sensitivitas indra penciuman dan perasa adalah penggunaan obat. Beberapa obat sering meninggalkan rasa pahit yang mempengaruhi sativa dan akhirnya akan mempengaruhi rasa makanan.

Terapi Makanan

1. Kurangi makanan yang dapat menurunkan kepekaan indra perasa, seperti yang diproses, bergula, berlemak, dan bergaram tinggi.

2. Kurangi konsumsi makanan yang dapat merangsang penurunan kepekaan indra perasa seperti rokok dan kopi. Pada kenyataannya para perokok dan peminum k0pi umumnya kurang menyukai makanan alami karena kepekaan indra perasanya sudah menurun.

- Masalah Pengunyahan
Masalah pengunyahan yang dialami lansia umumnya berupa gangguan pada gusi dan berkurangnya produksi sativa yang berfungsi untuk melembutkan makanan. Selain itu, asupan obat dan penyembuhan secara radiasi juga dapat mengakibatkan mulut menjadi kering, sehingga sulit mengunyah dan mencerna makanan. Apalagi jika makanan yang dikonsumsi dalam bentuk kering dan kasar.

Kiat Mengatasi Masalah Pengunyahan 1. Makanan yang disajikan harus lembut dan agak berair, sehingga lansia tidak akan mengalami kesulitan dalam mengunyah dan menelan makanannya. Namun, hindari bentuk makanan yang dihaluskan (pure) karena kurang menarik, sehingga tidak menggugah selera. 2. Potong makanan menjadi bagian-bagian yang kecil agar tidak tersedak. 3. Untuk mempermudah pengunyahan dapat disertakan minuman atau cairan di dalam makanan. 4. Konsultasilah dengan ahli diet atau dokter jika mengalami kesulitan pengunyahan yang serius. Susunlah menu diet sesuai dengan selera dan kemampuan mengunyah.

Perhatikan kecukupan gizi.

Kiat Mengatasi Mulut Kering 1. Banyak mengonsumsi aliran (air tawar atau jus). 2. Konsumsilah makanan yang lembut dan lunak seperti puding. 3. Kurangi konsumsi makanan kering seperti keripik, roti kering ataupun produk-produk daging yang dikeringkan. 4. Hindari alkohol dan kalein. 5. Hindari makanan yang asam dan terlalu berbumbu.

Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.