Cara Mengoptimalkan Kerja Hormon Agar Awet Muda

Cara Mengoptimalkan Kerja Hormon Agar Awet Muda

Melatonin adalah substansi yang dikeluarkan oleh kelenjar pineal di pusat otak. Melatonin merupakan antioksidan paling ampuh yang pernah ditemukan dan dapat menangkal oksidasi dalam tubuh.

Berbagai studi menunjukkan bahwa melatonin adalah master hormone yang merangsang keluarnya berbagai hormon lain. Berbagai hormon tersebut pada gilirannya mengatur banyak proses metabolisme dalam tubuh, mulai dari mencerna makanan sampai menstruasi. Melatonin merupakan kunci penting untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. Melatonin menjaga agar sistem tubuh yang beragam tetap selaras, dan berfungsi sebagai suatu kesatuan yang harmonis. Melatonin membantu memperbaiki sel-sel dan sistem-sistem yang rusak, akibat paparan terhadap zat-zat berbahaya dan tekanan hidup sehari-hari.

Pada saat proses penuaan berlangsung, sistem-sistem tubuh yang tertata secara akurat mulai mengalami kemunduran. Terjadilah kehilangan ingatan, yang mungkin terkait dengan gangguan pada tidur.

Selain itu sistem endokrin menjadi kurang peka, sehingga memproduksijumlah hormon yang salah atau melepaskan hormon pada saat yang tidak tepat. Sistem kekebalan tubuh juga terganggu sehingga membuat kita lebih rentan terhadap infeksi.

Indikasi penuaan ini bermuara pada fungsi melatonin, yang mengkoordinasi irama-irama tubuh. Kekuatan pendorong di balik proses penuaan adalah hadirnya radikal bebas yang merusak sel-sel. Di seluruh tubuh melatonin bertindak sebagai antioksidan, yang melindungi sel-sel tubuh dari serangan radikal bebas, sehingga melatonin sering juga disebut sebagai hormon awet muda.

Radikal bebas adalah atom atau molekul yang tidak lengkap. Radikal bebas kekurangan satu atau lebih electron, sehingga membuat mereka tidak stabil. Pada sel-sel hidup, radikal bebas ini merupakan senyawa pemberontak yang mengacaukan struktur kimiawi sel. Radikal bebas mungkin tidak menghancurkan sel sepenuhnya, tapi dapat mengakibatkan kerusakan permanen.

Membantu Produksi Melatonin
Mempertahankan produksi melatonin agar senantiasa optimal adalah sangat penting. Menu makanan dapat membantu produksi melatonin. Makanan-makanan yang banyak mengandung asam amino tryptophan (susu), dapat memberikan blok-blok pembangun dasar bagi tubuh untuk memproduksi melatonin. Ketika melatonin dihasilkan, datanglah rasa kantuk. Oleh karena itu, tidak salah kalau ada aniuran, minumlah susu di malam hari agar cepat tidur.

Makanan-makanan yang tinggi antioksidan (sumber vitamin E, C, dan A), dapat membantu mempertinggi khasiat melatonin, sebagai senyawa anti penuaan. Pepatah Barat mengatakan, sarapan pagi tanpa sari jeruk bagaikan hari tanpa sinar matahari. Sari jeruk adalah sumber vitamin C yang dapat berfungsi sebagai antioksidan, bermanfaat untuk memerangi radikal bebas. Diet yang mengandung substansi pelawan radikal bebas (antioksidan) merupakan bantuan tambahan bagi melatonin.

Pangan sumber vitamin E seperti sayuran berdaun hijau tua, ubi jalar, mangga, dan kacang-kacangan, merupakan antioksidan yang kuat. Demikian pula pangan sumber vitamin A atau betakaroten (pepaya, wortel).

Mempengaruhi Kulit 
Hal yang perlu diketahui adalah, proses pemasakan akan merusak sejumlah antioksidan. Jika sayuran dimasak, mereka kehilangan sekitar 30 persen vitamin C dan 5 persen betakaroten. Pengalengan juga merusak 1/4 3/4 kandungan vitamin C dalam makanan. Jadi, sebagai petunjuk umum, dapat dikatakan bahwa untuk makanan sumber vitamin C, semakin segar adalah semakin baik.

Vitamin C adalah antioksidan yang dapat berperan dalam pembentukan jaringan ikat, sehingga sangat mempengaruhi keadaaan elastisitas dan berkerutnya kulit. Vitamin C mendapat julukan master of nutrient karena fungsinya yang sangat bermacam-macam seperti pencegah pilek, meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan kolesterol bagi orang-orang yang berkolesterol tinggi, dan lain-lain.

Sari buah yang dikemas dalam karton tetrapak, setelah disimpan dalam suhu kamar selama 10 minggu kehilangan vitamin C 34 persen. Sari buah dalam kemasan botol kehilangannya mencapai 71 persen karena mudah terekspose dengan cahaya, sehingga meningkatkan kerusakan. Penyimpanan di kulkas selama 10 minggu ternyata tidak menunjukkan kerusakan vitamin C yang berarti.

Kandungan vitamin C dalam kemasan sari buah tetrapak berukuran 250 ml adalah 12 mg. Kalau kebutuhan vitamin C adalah 60 mg/orang/hari, diperlukan 5 bungkus sari buah. Sementara dengan makan satu buah jeruk sudah mencukupi 90 persen kebutuhan kita akan vitamin C.

Disarankan untuk mengonsumsi sayur atau buah setiap hari sekitar 200 gr. Meski demikian, konsumsi gizi yang baik ini perlu disertai dengan upaya menghindari kelelahan fisik ataupun tekanan jiwa berlebihan. Hal ini akan menambah kesehatan dan kebugaran tubuh. Membiasakan berolahraga secara teratur akan merangsang tubuh mengeluarkan zat endorfin yang menyebabkan perasaan nyaman, bahagia, dan tidur lebih nyenyak.

Mengonsumsi sayuran yang banyak mengandung vitamin C, seperti daun pepaya, daun singkong, dan sawi, bisa memudahkan penyerapan zat besi dalam tubuh.

Kol merupakan salah satu jenis sayuran yang cukup populer. Brokoli dan sawi masih satu famili dengan kol. Famili kol ini belakangan santer disebut sebagai makanan pencegah kanker.

Sayuran ini mengandung antioksidan yang dapat melumpuhkan senyawa radikal bebas penyebab kanker. Selain itu juga kaya akan sulfur dan histidin yang dapat menghambat pertumbuhan tumor. Sayangnya, sayuran jenis kol ini mengandung senyawa goitrogenic yang mengganggu penyerapan iodium.

Mengonsumsi sayuran dalam bentuk mentah, sebagai lalap, berarti tidak ada atau sedikit sekali zat gizi yang rusak. Penyediaan lalap juga mudah, dan tidak memerlukan banyak waktu. Hanya saja, alasan utama seseorang makan lalap adalah karena cita rasanya yang khas, dan tidak mungkin tertandingi oleh sayur yang dimasak.

Namun, risiko lalap mentah tercemari jasad renik, seperti telur cacing gelang, cukup besar. Kontaminasi telur cacing pada sayur sawi dari pasar yang dicuci dalam air tidak mengalir lebih tinggi daripada yang dicuci dalam air mengalir. Kontaminasi pada sawi juga ternyata lebih tinggi dibandingkan pada mentimun.

Sayur mentah juga ada kemungkinan tercemar oleh pestisida karena penyemprotan menjelang panen yang kurang tepat. Oleh karena itu, mengonsumsi sayuran matang rasanya lebih terjamin dari bahaya kontaminasi.

Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.