Senam Otak Agar Tidak Pikun

Senam Otak Agar Tidak Pikun, supaya tidak pikun, atasi pikun

Penurunan kemampuan otak wajar mengiringi proses menua. Namun, kini ilmu pengetahuan mampu mencegahnya, antara lain dengan melakukan senam otak.

Prof. Dr. Sidiarto Kusumoputro, Sp.S(K), ketua kelompok studi fungsi luhur dan penyakit Alzheimer (salah satu jenis kepikunan) dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), mengatakan bahwa mudah lupa merupakan fenomena yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari warga usia lanjut. Angka kejadiannya berdasarkan umur, dapat diketahui dari berbagai penelitian. "Ada yang menunjukkan angka 35 persen pada usia di atas 65 tahun, ada pula yang menemukan 39 persen pada usia 50-59, dan ada yang 85 persen pada usia 80 tahun. Semua itu tergantung pada metodologi penelitiannya," kata Prof.Sidiarto.

Penurunan fungsi otak secara fisiologis yang normal, menurut Prof.Sidiarto, di antaranya adalah penurunan daya ingat (memori) dan inteligensia dasar (fluid intelligence), yang berarti penurunan fungsi belahan otak kanan.

Hal senada dinyatakan oleh Dr.Ruswaldi Munir, SpKO, dari Bagian Kedokteran Olahraga FKUVRSCM yang juga salah satu personel dari Pusat Pencegahan Proses Penuaan RS Husada, Jakarta. "Dengan bertambahnya usia, secara normal, kemampuan otak kanan itu lebih cepat menurun daripada otak kiri, " ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr.Ruswa|di menjelaskan bahwa berdasarkan fungsinya otak dibagi dua, yaitu hemisfer kanan dan hemisfer kiri. ”Yang kiri ini secara garis besar berperan sebagai pusat kemampuan baca-hitung-tulis. Nah, kalau yang sebelah kanan adalah pusat pemantauan dan perlindungan diri terhadap lingkungan sosialisasi, spiritual, musik, kesenian, peribahasa, dan emosi. Selain itu, otak kanan juga pusat untuk pergerakan motorik halus,” ujarnya.

Kemunduran hemisfer kanan karena proses penuaan menyebabkan seseorang menurun daya ingat visualnya, cepat lupa apa yang dilihat, cepat lupa wajah seseorang, kesulitan konsentrasi, kesulitan orientasi ruang, dan cenderung cepat beralih perhatian.

Kelambanan juga terlihat pada motoriks sederhananya, seperti kemampuan lari cepat dan mengetuk-ketuk jari tangan, juga pada persepsi… sensoris dan reaksi kompleksnya.

Meski demikian, banyak tindakan pencegahan yang dapat diterapkan. "Caranya dengan belajar. Belajar apa saja. Lalu dengan permainan seperti puzzle atau computer games, yang melatih konsentrasi, atensi, orientasi, dan imajinasi. Kegiatan sosialisasi, baik itu spiritual, musik, dan artistik juga bisa membantu. Selanjutnya dengan melakukan brain gym atau senam otak, " tutur Dr. Ruswaldi.

Crossing the mid line dan alternate movement adalah jenis latihan yang dilakukan dalam senam otak. "Artinya latihan-latihan tersebut haruslah gerakan-gerakan yang mengaktifkan lintas informasi otak kiri dan kanan yang dihubungkan melalui suatu bagian yang disebut corpus calosum. ”

Selain untuk menjaga kelangsungan otak kanan, termasuk koordinasinya dengan otak kiri pada orangtua, senam otak juga dapat diandalkan bagi mereka yang ingin meningkatkan produktivitas kerja mengingat fungsi otak kanan juga sumber inisiatif dan kreativitas.

Senam otak juga perlu bagi orang yang depresi, tidak punya inisiatif dan improvisasi, orang yang ingin punya gerakan halus yang baik, misalnya dalam sport atau seni, anak bermasalah karena kesulitan belajar, konsentrasi, membaca, serta berhitung.

Lima Kiat untuk Lansia 

Ada lima hal yang perlu diperhatikan kaum usia lanjut untuk menjaga kesehatan mereka. Begitu kata Prof.Dr. Sumarmo Markam, salah satu guru besar FKUI, Jakarta, yang suka memberi ceramah pada kaum lansia di umurnya yang sudah menginjak 70 tahun ini.

Pertama, menjaga makanan atau diet. "Jangan terlalu banyak kalori, jangan overweight. Kalau berat badan 10 persen di bawah seharusnya malah lebih baik. Apalagi kalau orang itu tulangnya kecil. Dan makanan sebaiknya juga disesuaikan dengan keadaan gigi. Kalau sudah kurang baik misalnya, nasi harus lebih lembek," ujarnya.

Kedua, berolahraga. Prof.Sumarmo menyatakan, “Apa saja yang ia bisa atau suka, yang penting teratur. Kalau memang tidak ada yang disukai, minimal jalan kaki 30 menit setiap hari."

Ketiga, olah otak. Sama dengan Dr.RuswaIdi, Prof.Sumarmo menekankan: “Teruslah belajar. Apa saja. Misalnya suka catur, dalami catur. Atau bridge. Yang suka anggrek, pelajari tentang anggrek dan praktikkan. Atau paling tidak, membantu cucu belajar. Yang penting kepala ini jangan sampai kosong.”

Keempat, penanggulangan stres. Dalam hal ini, ajaran agama memegang peran penting. “Karena stres berkelanjutan bisa mengakibatkan depresi, sehingga kerja otak akan menurun dan selanjutnya mempengaruhi koordinasi seluruh organ dan tubuh pun menjadi lemah," tutur Prof.Sumarmo, yang berencana menulis buku dan aktif di organisasi lansia ini.

Terakhir, penggunaan obatobatan, tentunya bila memang ada hal-hal yang mendesak untuk itu. Misalnya memiliki sakit atau gangguan tertentu yang sudah tidak ada jalan lain untuk mengatasinya. Sudah pasti penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.

Previous Post
Next Post

post written by:

Tolong "SHARE" artikel kami via SOSMED, Agar semua menjadi kebaikan. Terima Kasih.